Saya & Enjel, sudah menikah lebih dari empat tahun. Melihat perjalanan rumah tangga kami sampai hari ini, Stronger Marriage Online Class (SMOC) jelas merupakan Belas Kasihan Tuhan yang dianugerahkan-Nya bagi kami. Sungguh nyata!
Mengapa Belas Kasihan Tuhan?
Melalui SMOC, kami sebagai pasutri kembali merasakan sukacita membangun relasi dengan Allah. Seperti ketika dulu kami masih single & secara pribadi pertama kali berjumpa dengan-Nya. Saat ini kami merasa seperti lahir baru dalam penyatuan suani isteri untuk berhubungan dengan Allah yang hidup.
Ada tiga hal paling berkesan yang membawa kami kepada penyatuan tersebut:
1. Intimacy with God.
ejak menikah sesungguhnya kami terbiasa membaca Alkitab bersama di pagi hari. Sebagai pasutri baru, walau sering saat teduh bersama, kami ternyata tidak pernah benar-benar secara pribadi terbuka di hadapan Tuhan tentang kelemahan & pergumulan pribadi masing-masing. Sebagai suami & isteri, rasanya belum mau membuka diri tentang kelemahan & dosa pribadi. Hal ini membuat kami kurang menikmati Tuhan. Dilemanya, secara pribadi ingin terbuka kepada Tuhan di dalam doa, tapi hati belum siap terbuka kepada pasangan.
Baca Alkitab akhirnya semakin tidak beraturan ketika anak pertama, kedua & ketiga hadir. Kami mulai tidak disiplin membaca Firman-NYA. Ketika kami mencoba bersama-sama meluangkan waktu membaca, sunggu sulit. Kalaupun ada, kami tidak menikmati karena melakukannya terburu-buru sambil sibuk mengurus anak, pekerjaan rumah & pekerjaan kantor. Perlahan-lahan intimasi dengan Allah benar-benar lenyap dari keluarga kami. Tetap baca Alkitab & berdoa, tetap tidak teratur & tidak lagi menikmati Tuhan.
Puji Tuhan, saat mengikuti SMOC, kami diajar bagaimana membangun intimasi dengan DIA. Ini benar-benar secara tepat menjawab kebutuhan kami. Dalam diskusi via ZOOM, diajarkan bahwa tidak harus baca Alkitab bersama, karena masing-masing (suami & isteri) waktunya berbeda. Tetapi masing-masih perlu menyediakan waktu khusus & terbaik untuk membaca Alkitab. Metode membaca Alkitab dengan metode flowing berurutan yang diajarkan pun sangat menolong untuk lebih menikmati Firman Tuhan, tanpa harus terburu-buru untuk menyelesaikan satu perikop atau pasal.
Pelajaran ini menbuat kami bersepakat untuk secara pribadi mengkhususkan waktu bagi Tuhan. Kami mendiskusikan waktu yang tepat untuk masing-masing bisa membaca tanpa gangguan anak-anak, ataupun dari lingkungan sekitar. Setelah mendapatkan waktunya kami sepakat & berdoa memohon belas kasihan Tuhan agar dimampukan memiliki keintiman bersama-NYA.
Syukur kepada Tuhan yang berkenan mendengar seruan kami & menolong untuk memiliki kerinduan membaca Alkitab setiap lagi. Kami tdak pernah macet baca Alkitab sampai hari ini. Banyak Firman Tuhan memperlihatkan & mengoreksi kelemahan-kelemahan sebagai suami-istri.
Tidak hanya saat kami membaca Alkitab, tetapi di sepanjang hari kami beraktivitas, Roh Kudus terus mengingatkan waktu kami melakukan hal yang salah. Ini semakin membentuk kami & sangat mengurangi konflik karena beda pendapat.
2. Meeting Day
Meeting Day sangat berkesan. Sejak menika, kami belum pernah keluar berdua saja ke suatu tempat untuk ngobrol. Tahun pertama, kami langsung dikaruniai anak sehingga lebih banyak di rumah mengurus si kecil. Selain itu saya juga tidak suka keluar rumah sehingga jarang bahkan tidak pernah mengajak Enjel jalan-jalan. Tetap setelah belajar tujuan & manfaat Meeting Day, saya sangat berinisiatif untuk mengajak istriku Enjel keluar. Tujuan Meeting Day agar kami bisa saling belajar mendengarkan curhat. Awalnya kami duga tidak banyak topik yang dapat dibicarakan karena masing-masing tidak mau terbuka. Saya pun rada kuatir kalau terbuka apa malah jadi konflik lagi. Namun, kami mengawalinya dengan Doa mohon belas kasihan Tuhan untuk hadir melembutkan hati ketika saling mendengarkan curhat.
Puji Tuhan, DIA nyata hadir menjawab doa sehingga kami saling mendengarkan satu sama lain. Topik yang dibicarakan pun sangat banyak & tidak selesai dalam waktu dua jam. Setelah Meeting Day, hidup terasa lebih ringan karena kami lebih bisa saling memahami. Jika ada kesalahan yang saya lakukan, isteri cepat untuk memaafkan & sebaliknya. Perbedaan pendapat yang biasanya berujung konflik sangatlah berkurang. Intinya, hidup menjadi lebih nyaman & hubungan siami isteri semakin intim.
3. Family Altar
Pengajaran Family Altar sangatlah menegur saya sebagai suami, kepala keluarga, yang pnya tanggung jawab untuk membawa anak-anak semakin mengenal Tuhan. Sebelumnya, saya & isteri fokus pada kesehatan fisik & pengetahuan anak. Pertumbuhan rohani kurang mendapat perhatian. Kami belajar melalui SMOC tentang bagaimana memperkenalkan anak usia empat tahun kepada Allah. Seusia mereka, Family Altar juga dapat disampaikan secara informal. Artinya, dalam setiap kesempatan ketika bangun pagi, bermain, berkendaraan bisa membicarakan tentang Allah kepada anak-anak. Cara lainnya, membeli Alkitab bergambar & menceriterakan peristiwa-peristiwa Alkitab kepadanya. Family Altar ini mengingatkan kami untuk serius memperkenalkan Tuhan kepada anak-anak.
Terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah mempertemukan kami dengan Kelas Online ini. Juga para mentor yang telah mengajar kami.
Amin & Enjel.
Alumni Stronger Marriage Online Class Angk. 8
