Site Loader
Ranca Bali 45 Dbali Pasteur, Jawa Barat Bandung

Tuhan sebagai Fondasi Pernikahan.

Bangunan Pernikahan harus dibangun atas dasar Fondasi yang kuat yaitu TUHAN.

Bab 1

God as The Foundation of Marriage

Tuhan Sebagai Fondasi Pernikahan

Apa maksud tema ini? Mari kita mulai dengan menjawab pertanyaan: Inisiatif siapakah pernikahan itu? Inisiatif manusia atau Tuhan? Kitab Suci menyingkapkan pernikahan adalah inisiatif Tuhan sendiri. Jika kita menyetel pikiran dengan jawaban ini, maka bersiap-siaplah untuk sebuah perubahan yang dahsyat.

Apa saja yang Tuhan kerjakan pastilah mengguncang hidup Anda!

Mari kita mulai, Tuhanlah Sang Pencipta pernikahan. Dia ingin melaluinya, lahirlah anak-anak Allah yang menjadi berkat bagi banyak orang. Sebab itu, kita sadar bahwa peranan Allah sangat penting! Tanpa Tuhan pernikahan menjadi sia-sia, tanpa tujuan, going no where, hanya berputar-putar.

Kita yang percaya Tuhan sebagai pencipta langit dan bumi, tentunya juga yakin Dia telah memberi hukum dan peraturan. Hukum Tuhan memberikan arah, tujuan dan arti pernikahan.

Persisnya, hukum ini bisa ditemukan dalam Kitab Suci. Kitab Suci sebagai Objective Truth berada di luar diri manusia, lain dengan Subjective Truth yang berada pada diri manusia.

Subjective Truth adalah kebenaran menurut diri sendiri dari kacamata manusia berdosa. Kalau saya suka hidup bersama tanpa menikah, so what? Menurut saya okey kok. Kalau saya suka seks sebelum menikah, emangnya kenapa? 1+1 = 2  menurut matematika umum (objektif), tapi 1+1 =  terserah saya. Kalau saya bilang 1, boleh kan, 11 juga bisa, tergantung mood. Inilah Subjective Truth yang berpusatkan manusia. Mengikuti kehendaknya sendiri saja, tanpa kepastian. Pokoknya, asal memberikan untung besar.

Apalagi saya rasa enak, ini toh urusan pribadi. Ini yang saya rasa tepat, lagi pula tidak ada urusannya dengan kamu kan. Juga tidak mengganggu masyarakat. Ditambah, saya tidak bikin susah orang lain. Sebab itu, Subjective truth tidak bisa dipakai sebagai dasar pernikahan. Tentunya, kita harus bersandarkan Objective Truth yakni firman Tuhan.

Wadah Objective Truth berkarya adalah iman yang dianugerahkan Tuhan. Tanpa iman manusia tidak mungkin taat pada kebenaran-Nya. Itu sebabnya, ketika belajar taat, damai sejahtera hadir seperti air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir dalam kehidupan kita.

Iman adalah keniscayaan agar kita dapat membangun pernikahan beralaskan kehendak Tuhan. Iman sangat hakiki. Kadang-kadang kita beriman tetapi sukar merealisasikannya ke dalam kehidupan. Banyak orang berkata,”Saya orang beriman.” Tetapi faktanya dalam kehidupan sehari-hari, iman tidak terpancar, ujung-ujungnya pernikahan orang Kristen dan non Kristen kelihatan sama saja.

Jadi, apa keunikan penikahan orang Kristen? Ada lima, mari kita kupas satu persatu:

1. Menjadi Partner Allah

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.[1]

Keunikan pertama, Tuhan memiliki rencana agung bahwa pernikahan Kristen dimaksudkan menjadi partner Allah dalam menggarap dunia ini. Tuhan membutuhkan partner atau rekan. Aneh ya? Sejatinya, Tuhan tidak pernah bekerja sendirian. Kita sungguh bisa dipakai sebagai partner Tuhan. Maukah Anda?

Bayangkan jika suami mau dipakai sebagai partner Allah tapi isterinya tidak seiman. Apa bisa? Yang terjadi malah perang dunia. Konsep mendidik anak saja beda; Hari Minggu ada yang mau ke gereja, ada yang mau ke kolam renang atau ke tempat lain. Dalam komunikasi dialogis, tidak ada doa dan saat teduh bersama.

Tujuan pernikahan Kristen dan non Kristen berbeda. Kita menyadari pernikahan Kristen unik di dalam tujuannya yaitu Tuhan ingin menjadikan kita sebagai Bangsa yang Kudus (Holy Nation).

Holy Nation dimaksudkan menjadi tangannya Allah untuk memberkati bangsa-bangsa. Tuhan memakai suami isteri sejak dipersatukan, melaluinya anak-anak Allah lahir. Bangsa yang kudus adalah wadah seperti firman Tuhan nyatakan: Bangsa terpilih, imamat rajani.[2]

Saat menjadi partner Allah, Tuhan memberikan Covenant (Janji yang Kekal). Covenant mengandung janji. Dia akan memberkati, menuntun, dan memimpin Anak-anak Janji yang lahir dari pernikahan kudus.

Dari firman Tuhan di atas, kita mengetahui anak-anak Tuhan adalah bangsa yang telah DIPILIH Tuhan menjadi Imamat yang Rajani. Umat yang Spesial di mata Tuhan untuk memberkati bangsa-bangsa. Pembahasan tema ini lebih mendalam dapat ditemukan di Bab 4 Adventure of Living dan Bab 11 Growing Personally.

Karenanya, keunikan kedua pernikahan Kristen adalah menikah dengan pasangan seiman.

(bersambung)

2. Pasangan yang Seiman

Tuhan sebagai fondasi pernikahan diawali dengan mencari pasangan yang seiman. Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?[3]

Awal mula Tuhan hadir sebagai fondasi pernikahan adalah ketika kita taat kepada kebenaran ini.

Alasan Seiman

Sekilas percakapan kami dalam Siaran I Do: GARAM & TERANG.

”Liana, mengapa dahulu mencari pasangan yang seiman?”

”Sejujurnya, mencari yang seiman karena saya memiliki satu konsep bahwa orang yang takut pada Tuhan, pastilah bisa dipercaya. Mungkin ini konsep yang naif, karena saya tidak mau menghabiskan seluruh hidup saya dalam kecemasan. Cari aman! supayamasa depan terjamin,” jelas Liana dengan mata penuh keyakinan.

Kalau suami melakukan sesuatu yang buruk, kan ada Bapanya di Surga yang bisa kita laporin. ”Tuhan, bagaimana ini, mengapa anakmu begini? Tetapi kalau suami tidak mempunyai Tuhan, bagaimana saya bisa lapor?” ”Suami yang tidak beriman pasti tidak memiliki peraturan dan batasan atas segala tingkah lakunya. Dengan orang seperti ini, tentu saya merasa tidak aman untuk hidup bersama,” tambah Liana serius.

”Kalau Khui Fa sendiri? Mengapa mencari yang seiman?” balasnya kepengen tahu.

”Yah kalau saya sederhana saja. Saya berusaha untuk taat kepada Firman Tuhan. Kan ada tiga respon anak Tuhan terhadap Firman, disingkat ATM, tapi bukan Anjungan Tunai Mandiri. Yang ini: Acuh Tak Acuh, Taat, Melawan. Sebaiknya dalam kesadaran dan kepekaan kepada Firman-Nya, kita memilih untuk Taat.”

”Jadi, saya tidak mengerti kenapa Tuhan menyuruh saya untuk mencari yang seiman, apa sih baiknya? Apalagi waktu itu memang ada juga beberapa teman wanita yang bukan Kristen naksir saya, cukup menggoda.” Ceile…ujar Khui Fa menerawang masa lalu.

”Tetapi saya sadar yang aman dan terbaik adalah ketika harus T A A T kepada kebenaran-Nya. Waktu taat, saya percaya Tuhan ada di pihak saya. Bersama-Nya apapun bisa saya hadapi. Saya sadar membentuk keluarga tidak gampang, susah sekali, jadi saya pikir untuk bisa memiliki keluarga yang baik dalam naungan Tuhan, mau tidak mau harus TAAT pada kebenaran-Nya. Dia pasti benar dan saya merasa aman dalam kebenaran-Nya,” pungkasnya menutup pembicaraan.

Demikian sekilas info.

Bagaimana mungkin terang bersatu dengan gelap? Keduanya harus berada di dalam terang. Yang menjadi pergumulan selanjutnya adalah: Apa arti seiman?

Seringkali  kita salah mengerti.

Kita biasa ditanya,”Pacarmu ke gereja tidak?”

Jawabnya,”Oh, kami sama-sama aktif pelayanan”

Kalau ke gereja dan pelayanan, apakah berarti dia orang Kristen? Apakah berarti anak Tuhan? Belum tentu!

Dalam satu gereja, ada ilalang dan gandum. Tuhan Yesus pernah menyingkapkan. Begini ceritanya,

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.

Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: ”Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?” Jawab tuan itu: ”Seorang musuh yang melakukannya.” Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: ”Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? ”

Tetapi ia berkata: ”Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.” Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: ”Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” [4]

Kalau ilalang dicabut, gandum juga ikut mati, jadi biarkanlah mereka tumbuh bersama. Nanti pada hari penghakiman gandum akan dibawa ke lumbung dan lalang akan dibawa ke perapian untuk dibuang dan dibakar. Jadi seiman itu belum tentu satu gereja, karena dalam satu gereja ada anak Tuhan dan yang bukan. Jadi bagaimana membedakannya? Jangan hanya melihat dengan mata, sama-sama melayani, sama-sama ke gereja.

Ada seorang ibu mencari calon menantu yang beriman. Carinya so pasti di gereja. Syaratnya harus melayani. Eh…dapat seorang singer di gereja. Tetapi apa yang terjadi? Calon mantunya melakukan hal-hal yang kurang terpuji. Waktu pacaran ternyata menduakan anaknya, pacaran dengan dua orang sekaligus.

Baru pacaran saja sudah mendua, bagaimana kalau menikah nanti? Bisa men-tiga dan meng-empat dong!

Akhirnya, sang ibu kecewa, ”Kok anak Tuhan seperti itu?”

Karenanya, penting membedakan gandum dan ilalang. Dari jauh kelihatan sama saja tetapi kalau diperhatikan jelas beda. Iman sejati akan terasa dan kelihatan:

  1. Haus akan kebenaran firman Tuhan. Ini yang membedakan sudah percaya atau belum. Waktu belum percaya, tidak suka kepada firman Tuhan, kedagingannya membenci kebenaran. Sesudah lahir baru, kita dihadiahi iman. Akibatnya, haus akan firman Tuhan, kangen membaca Alkitab, mau bersekutu dengan Tuhan melalui doa.

Walaupun letih dan lesu tetap haus firman. Tidak dipaksa-paksa. Roh Kudus yang berdiam dalam diri kitalah yang mendorong agar datang kepada Firman. Kita semua kan pernah merasa haus, waktu dahaga pasti mencari air minum untuk menghilangkannya.

  1. Membenci dosa. Dosa mulai terkikis. Dulu ENAK berdosa sekarang ENEK berdosa. Dia tidak akan mengajak pacarnya untuk melakukan dosa. Misalnya, seks sebelum menikah. Dia sopan pada orang tua. Akibatnya:
  1. Bertumbuh bersama Tuhan ke arah yang lebih baik. Hidupnya mempunyai arah dan tujuan. Tidak mempermainkan hidup. Dia seorang yang bertanggung jawab dalam segala hal. Semua ini dapat dirasakan. Misalnya: Nilai pelajaran meningkat, karakter semakin indah, tanggung jawab bertambah dan hubungan dengan orang tua membaik.

bersambung

3. Monogami

Keunikan ketiga adalah Monogami, menikah dengan satu orang. Bukan stereogami menikah dengan dua orang, apalagi poligami, menikah dengan banyak orang.

Tuhan tidak suka dengan orang yang menikah dengan banyak orang. Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang.[5] Isteri banyak, hati pasti bercabang. Salomo sudah membuktikan, Anda jangan ikut-ikutan. Nanti susah sendiri.

Dalam Kitab Suci banyak contoh orang beristeri lebih dari satu. Apakah contoh itu kita teladani? Justru tidak! Ada kisah Daud. Faktanya, kehidupannya sangat nelangsa. Raja Daud memiliki anak: Absalom dan Adonia. Keduanya berikhtiar buruk, bertekad bulat merebut Tahta Kerajaan.

Bahkan, anak-anak Daud ada yang memperkosa saudara sendiri! Amnon memperkosa Tamar. Amnon dan Tamar berayahkan Daud dari ibu berbeda. Hal-hal yang sangat memalukan terjadi dalam keluarga Daud. Sebabnya? Beristeri lebih dari satu.

Orang-orang yang gencar beristerikan banyak, diperbudak hawa nafsu seks. Mereka tidak pernah menilai isterinya sebagai satu pribadi yang utuh. Nikmatilah isteri yang kau kasihi seumur hidupmu yang sia-sia.[6] Bahasa aslinya bermakna isteri masa muda yang dibawa sampai mati. Cuma satu. Inilah yang Tuhan kehendaki.

Poligami tidak pernah bermotifkan kebaikan. Berbagai contoh dalam Kitab Suci selalu membuat sosok seorang pria jadi sulit dipakai Tuhan. Akhirnya, gagal total memberkati orang lain.

Wanita-wanita yang dipoligami juga sama buruknya. Mereka bersaing mendapatkan kasih sayang suami. Coba lihat Hana yang menangis ingin punya anak, karena dihina Penina yang lebih disayang suaminya Elkana.

Kenapa demikian? Karena Penina sudah memberikan keturunan kepada Elkana.

Sara dan Hagar berselisih dan baku hantam setiap hari. Abraham pusing tujuh keliling dibuatnya. Bahkan lebih dari tujuh. Sampai hari ini peperangan tiada habisnya karena Abraham pernah salah langkah mengambil Hagar sebagai isteri.

Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.[7] Begini maksudnya, hari ini hatinya menclok di isteri pertama, besok ke isteri kedua, lusa ngungsi ke isteri ketiga. Pastilah tidak akan tenang hidupnya. Perselisihan selalu mengepung seperti semut mengerubungi gula-gula. Pusiiinggg!!!!

Keunikan pernikahan Kristen, dalam pernikahan hanya ada satu suami dan satu isteri. Tuhan tidak mengizinkan orang lain masuk dalam pernikahan tersebut. Dalam pernikahan yang indah, segitiganya sama sisi. Tuhan ada di atas, suami di sudut kiri bawah dan isteri di sudut kanan bawah. Tuhan tidak mau siapapun join dalam segitiga, apalagi tanpa permisi! Kalau ada yang numpang pasti merusak pernikahan.

Monogami juga mengandung arti Long Life Commitment atau Long Life Unity. Bisa saja suami isteri serumah, pernikahannya kelihatan bersatu. Tapi apa yang terjadi? Tidak ada kontak, tidak ada komunikasi suami isteri. Long Life Commitment sesuai Firman Tuhan, suami isteri harus menjadi TEMAN pewaris dari kasih karunia yaitu kehidupan.[8] Suami isteri haruslah Best Friend, jadi teman baik seumur hidup. Teman baik kalau berjauhan rasanya tidak enak. Akhirnya, janganlah Anda bercita-cita memiliki Best Friend  lebih dari satu.

(bersambung)

4. Peran Suami dan Isteri Dalam Keluarga

Peran Suami Dalam Keluarga

Keunikan keempat, Tuhan memanggil suami dan isteri dengan peranannya masing-masing dan berbeda. Suami sebagai Kepala. Isteri sebagai Penolong.

Suami Sebagai Kepala

Sebelum melanjutkan lebih dalam, mari kita melihat firman Tuhan:

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.

Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya. [9]

Ada perintah Tuhan, Hai isteri tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan! Halo para isteri, kira-kira gampang tidak melaksanakan firman Tuhan ini? Yah…tergantung. Kalau suaminya baik seperti Tuhan memang gampang, tapi jika suaminya kejam dan jahat seperti iblis, suka menyakiti yah… isteri jungkir balik melaksanakan firman Tuhan ini.

Tingkat kesulitannya seperti apa? Ada tiga penyebab isteri sulit tunduk.

Jika Suami:

1. Kecanduan. Contoh, kecanduan narkoba, alkohol, judi, pornografi atau apapun yang membuat suami terikat dan terjebak. Sampai kelelep.

2. Penganiaya. Misalnya menyakiti, memukul atau juga sering mengeluarkan kata-kata yang kasar sampai pasangan sakit hati.

3. Berselingkuh. Perselingkuhan adalah pembunuhan terhadap janji nikah karena Trust kita pasti ditraktor.

Hai isteri tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Seperti kepada Tuhan…! Sepertinya tidak gampang.

Tuhan jelas Maha Kasih, suami kasihnya terbatas; Tuhan maha penyayang, suami sayangnya bersyarat; Tuhan peduli, suami peduli kalau ada maunya; Tuhan marah untuk kebaikan, suami marah untuk melampiaskan emosinya sendiri dan tidak terkontrol.

Ada suami kalau marah luar biasa, cincin kawin dibuang, barang-barang di rumah yang bagus dirusak, dilempar, eh… setelah itu menyesal,”Uh, udah beli mahal-mahal kenapa aku hancurin?” Ini suami neurotik. Tuhan marah tidak mendendam, suami marah bisa berhari-hari diam seribu bahasa. Jelas, di sini ada satu kesulitan isteri tunduk kepada suami, jikalau suami tidak dekat dengan Tuhan.

Karakter khusus yang setiap suami harus perjuangkan adalah menyerupai Tuhan. Suami mengimitasi Kristus yang adalah Kepala. Supaya jadi kepala, penting sekali tidak putus-putusnya menjaga diri akrab dengan Tuhan Yesus. Istilahnya Day by Day. Bisa dibangun melalui doa dan membaca firman.

Jika suami memiliki karakter Tuhan maka isteri dapat tunduk dengan gampang.

Karena suami adalah Kepala Isteri sama seperti Kristus adalah Kepala Jemaat. Mari kita perhatikan istilah Kepala. Apakah artinya?

Apa artinya suami jadi Raja? Jadi tukang perintah-perintah di rumah? Hai kamu kerjakan ini dan itu! Nge-Bossy. Jelas tidak demikian. Kristus kenapa jadi Kepala Jemaat? Karena Dia telah berkorban baginya. Kenapa jemaat bisa tunduk? Karena Kristus sudah mati di atas kayu salib, Dia menyerahkan seluruh hidup-Nya bagi kita. Hari ini kita bersyukur sedemikian rupa kepada Kristus karena Dia menyerahkan hidup untuk kita. Dia benar-benar berkorban! Puji Tuhan!

Dalam realita praktis kehidupan keluarga. Seperti apa sih suami yang berkorban? Contoh sederhana: Kala isteri sakit yah suami yang harus bawa ke dokter dong, jangan sampai isteri diantar supir atau ayahnya, atau pergi sendiri. Ambil obat ke apotik sendiri juga, karena suaminya entah ada di mana.

Kalau anak sakit, suami juga harus ringan tangan cepat bawa ke dokter. Saya pernah mendengar kisah sedih tapi nyata. Seorang isteri bercerita saat anaknya sakit, minta tolong suaminya cepat-cepat antar ke dokter. Apa jawabnya? ”Wah pergi sendiri deh, saya mesti kasih makan burung nih. Kalau burungnya enggak dikasih makan nanti mati lagi,” Burung diutamakan dari anaknya. Sang Isteri waktu cerita sampai emosi, matanya melotot, sampai urat-urat di mukanya keluar semua.

Suami ini tidak mau berkorban bagi keluarga, dia lebih mementingkan hobi. Hobi sudah menguasai seluruh pikiran. Sosok suami seperti ini nyata di tengah kita. Apa yang memenuhi pikirannya? Mungkin pekerjaan, hobi, pelayanan di gereja, mungkin teman-teman lebih penting dari keluarganya.

Sang suami tidak bisa berkorban. Ada suami tergila-gila nonton TV, baca koran juga tidak boleh diinterupsi. Pada saat dia menikmati sesuatu, semua orang verboden, sangat egois dan bikin isteri kesal dan sakit hati.

Sekarang cerita yang bagus. Seorang hamba Tuhan, isterinya memuji dia. Kenapa? Alkisah, sang isteri baru melahirkan. Banyak baju terkena darah dan harus dicuci, ditambah baju kotor dan popok bayi. Sang isteri melihat dari jauh, sementara sang suami sedang jongkok mencuci. Perlahan-lahan timbullah dalam dirinya rasa hormat pada sang suami. Ada pengorbanan luar biasa, sampai-sampai sang isteri angkat topi!

Kalau dipikir-pikir sebenarnya siapa yang lebih banyak berkorban? Sepertinya isteri deh. Sudah hamil sembilan bulan, mengurus rumah, memasak ga habis-habis, membesarkan anak, menemani anak belajar, dan lain-lain. Konsep suami berkorban agak kurang dikenal.

Karenanya, jika suami mau jadi Kepala, berkorbanlah! Termasuk bertanggung jawab mencari nafkah. Suami harus yakin bahwa kebutuhan dalam keluarga tercukupi.

(bersambung)

Pembela dan Pelindung

Apa peranan lainnya dari seorang suami sebagai Kepala? Sebagai Pembela dan Pelindung dalam keluarga. Seperti Kristus adalah Pembela dan Pelindung kita. Indah sekali membaca Kitab Suci: Aku adalah Allah yang Immanuel, selalu beserta dengan kamu.[10]

Kenapa Allah menyertai kita? Untuk memberi perlindungan dan membela dimanapun kita berada. Peranan ini harus dipegang oleh setiap laki-laki yang berani jadi suami. Tapi, suami susah dong jadi Immanuel. Kan tidak maha hadir? Maksudnya, seorang suami bisa mengkondisikan dirinya untuk memberi perlindungan, misalnya dengan memilih pekerjaan yang tepat.

Jangan memilih pekerjaan di mana keluarga ada di Bandung, sementara suami bekerja di kota yang nun jauh di sana. Bertemunya tiap tiga bulan atau lebih. Kalau isteri dan anak sakit, tentu suami tidak bisa berperan sebagai pelindung karena jarak memisahkan. Kalau terjadi apa-apa pasti ribet.

Tidak pernah Tuhan merancang keluarga berjauhan. Jika Anda sekarang terpisah sehingga tidak bisa berperan, yakinlah bahwa Tuhan adalah sumber segala kebaikan dan berinisiatif bagi kesempurnaan pernikahan kita. Dia sanggup menyatukan suami isteri dalam satu atap. Mintalah pekerjaan di mana suami isteri bisa bersatu. Lihat dan nantikanlah Tuhan akan membuka jalan bagimu!

Selain lokasi, jam kerja juga harus diperhitungkan. Kalau suami selalu bekerja di malam hari saat isteri dan anak-anak membutuhkan, bagaimana dong? Kehadiran seorang ayah di malam hari sangat menentukan. Seorang ayah seyogyanya pulang di jam yang wajar untuk meyakinkan diri bahwa semua anak sudah di rumah, termasuk isterinya.

Ada seorang hamba Tuhan bercerita bahwa semasa remaja dia ingin berontak! Ingin pergi malam dan pulang pagi, lalu mamanya berkata, ”Kamu Jangan Pergi!” Tapi dia tidak pedulikan mamanya dan berkeras pergi karena teman-teman sudah menunggu di luar rumah.

Tiba-tiba, papanya keluar dari pintu kamar (kebetulan di rumah) dan berkata,” Kalau kamu berani keluar dari pintu itu, jangan pulang!” Anak ini takut. Di sinilah peran dan otoritas ayah sebagai Pembela dan Pelindung keluarga.

Kalau ayah tidak ada di rumah, anak menjadi bebas. Biasanya anak lelaki tidak takut ibunya. Seringkali waktu ibu marah, eh… malah ditertawakan anak-anak, tidak dianggap. Sebaliknya, dalam kemarahan ayah ada disiplin yang tegas. Disinilah peran kaum pria.

Ada data-data mengenai hubungan buruk antara ayah dan anak. Dari Pusat Nasional Bidang Ketergantungan Penyalahgunaan Obat di Universitas Kolombia menemukan, anak-anak yang hidup dengan kedua orang tuanya, namun tidak memiliki hubungan yang seimbang (baca: buruk) dengan ayahnya. Anak-anak berkemungkinan 68% lebih tinggi beresiko merokok, terlibat minuman keras dan penggunaan narkoba dibandingkan dengan remaja yang memiliki hubungan baik bersama ayah mereka.

Data ini menegaskan kembali pentingnya Suami sebagai Kepala adalah memberi perlindungan pada keluarga. Jujur, panggilan ini bukan panggilan yang mudah. Termasuk saya sendiri, waktu menikah menyatakan janji, ”Saya bersedia.” Wah… panggilan ini sangat sulit. Saya juga jatuh bangun melaksanakannya. Seringkali karena keegoisan, saya gagal menjalankan peran ini.

Tetapi saya percaya hanya anugerah Tuhan dan penyertaan Roh Kudus yang membuat sampai hari ini kuat berperan sebagai Kepala. Melalui dekat dan intim dengan Tuhan, Anda so pasti bisa melakukannya!

(bersambung)

Pengarah Rohani

Peran ketiga suami sebagai Kepala adalah Pengarah Rohani dalam keluarga. Saya perhatikan ada kaitan langsung: Jika ayah bukan seorang percaya Tuhan, tetapi ibunya percaya, apa yang terjadi? Anak-anak dalam keluarga itu sulit dikontrol, saat masuk masa remaja, liarnya luar biasa. Hidup tanpa aturan.

Pernikahan harus seiman, supaya terbentuk anak-anak yang takut akan Tuhan. Tapi jika Sang Kepala tidak takut kepada Tuhan, anak-anak cuek sekali. Anak-anak memandang rendah sang ayah karena tidak rohani.

Seorang ayah seharusnya mencipta atmosfer rohani, sebelum tidur,”Yuk semua kumpul, berdoa dan bersyukur.” Waktu anak mau sekolah, sang ayah menaruh tangan di kepala sang anak dan memberikan berkat. Implikasinya, seorang anak di dalam hatinya bisa mengaku dengan jujur untuk memiliki hati yang sama.

Ketika sosok ayah berperan menjadi MODEL, barulah anak mendapatkan ARTI dari ibadah yang dilakukan. Dengan demikian dalam hatinya muncul kesadaran,”Kenapa saya beribadah? Karena saya lihat papa sungguh diberkati Tuhan, tatkala papa takut Tuhan dan mencintai Tuhan.”

Ada juga keluarga lain, terbukti anak-anak perlahan-lahan takut kepada Tuhan dan mencintai firman-Nya, disebabkan sang ayah serius menjalani perannya untuk mengarahkan rohani keluarganya. Jika suami tidak memegang peran sebagai kepala, herannya sang isteri jatuh bangun mengikut Tuhan.

Mengasihi isteri

Peran suami yang keempat: Mengasihi isterinya. Dari firman Tuhan yang sudah kita baca[11], banyak sekali kata-kata mengasihi dan mengasihi. Kata tunduk hanya muncul dua kali, sebaliknya mengasihi muncul sampai lima kali. Nampak nyata bahwa peranan suami adalah mengasihi isteri.

Seperti apa wujudnya? Suami tidak hanya memberikan kebutuhan jasmani: Uang, rumah, mobil, baju dan berbagai perhiasan. Bukan hanya kecukupan materi, tetapi sebuah perasaan dimana sang isteri merasa diutamakan dibanding apapun dalam kehidupan suaminya. Apapun itu mungkin hobi, pekerjaan, pelayanan ataupun teman bahkan ibu mertua.

Kasih berarti ada nilai perbandingan. Sewaktu seorang suami lembur, kebetulan sang isteri butuh bicara dan merayu,”Pa, pulang dong. Saya membutuhkan kamu sekarang saya mau curhat.” Bagaimana keputusan sang suami? Apakah dia mengutamakan isterinya atau tetap berada di kantor lembur sampai malam? 

Jika terjadi pola, setiap kali sang isteri butuh, sementara sang suami selalu memilih pekerjaan. Jadilah, sang isteri merasa tidak dikasihi. Merasa dinomorduakan.

Jika sesekali suami memilih mendahulukan pekerjaan, jelas tidak apa-apa. Jika jarang-jarang saja, eh eh…isteri marah tentu masalah ada pada isteri yang terlalu posesif. Ingin menguasai.

Ibu mertua juga bisa jadi saingan. Ada sebuah keluarga besar, suami dan saudara-saudaranya beserta isteri-isteri mereka tinggal serumah. Setiap malam saat suami pulang, isteri mau curhat tetapi tidak bisa, karena ibu mertua mengumpulkan seluruh anak lelaki di kamarnya. Aneh ya…tapi nyata!

Mereka bercerita sampai malam. Akhirnya para isteri di rumah itu kesepian. Desperate Housewifes bukan hanya di film. Isteri dalam posisi ini tentu merasa tidak dikasihi karena suami mengutamakan ibu dan saudara-saudaranya. Makanya, Firman Tuhan tepat sekali: Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya dan menjadi satu daging.[12]

Supaya kasih itu nyata, dalam mengawali keluarga yang baru tidak boleh ada orang lain! Suami tidak seharusnya terjebak dilema memilih ibu atau isterinya.

(bersambung)

Peran Isteri dalam Keluarga

Sebagai Penolong

TUHAN Allah berfirman,”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”[13]

Apa maksud Penolong? Apakah Sang Penolong lebih lemah atau sebaliknya? Penolong seharusnya lebih kuat supaya bisa menolong yang ditolong. Penolong bukan berarti isteri lebih lemah dan lebih inferior dari suami. Justru orang yang mampu menolong lebih kuat dan tangguh. Nyatalah panggilan ini adalah panggilan yang sangat mulia, amat menantang dan menuntut tanggung jawab sepenuhnya.

Salah satu titel Allah adalah Sang Penolong. Saat tertekan dan gelisah, Pemazmur menyatakan,”Berharaplah kepada Allah, sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku.”[14] Inilah peranan Allah yang luar biasa! Karena Dia mampu menolong maka kita percaya dan berharap kepada-Nya.

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.[15]

Disini Tuhan Yesus berbicara tentang Roh Kudus. Pribadi ketiga Allah Tritunggal. Dia hadir untuk memberi penyertaan, kekuatan dan penghiburan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Tatkala seorang wanita dipanggil Tuhan untuk menikah. Menjadi seorang isteri, peranan Penolong dianugerahkan Tuhan baginya. Dahsyat!

Walaupun wanita lemah, tetap Sang Penolong. Sungguh hebat! Saya pribadi tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidup saya jika tidak ada wanita. Yang pertama tentu ibu yang melahirkan dan membesarkan saya, mengajar banyak hal yang saya perlukan. Wanita kedua yang hadir dalam hidupku jelas isteri tercinta, Liana.

Sekarang Liana berperan sebagai penolong dengan memelihara saya. Akibatnya, sebagai suami bisa berfungsi maksimal. Seorang psikolog pernikahan berkata: Seorang pria dilahirkan oleh wanita, dan sepanjang hidupnya merindukan kehadiran dan dukungan seorang wanita.

Peranan sebagai Penolong membutuhkan kekuatan. Ini adalah tanggung jawab yang berat dan tidak gampang, tetapi melalui pertolongan Tuhan niscaya hal ini dapat terlaksana sempurna.

Sepadan

Sekarang kita menyoroti kata Sepadan: Apa artinya? Dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan ke Bahasa Inggeris berarti Corresponding To Himself. Sang Penolong terhubung kepada Sang Suami. Jelas dia seorang wanita. Terhubung maksudnya apa?

Adam mencari siapa yang bisa menolong? Ternyata di Taman Eden banyak sekali binatang, tapi tidak menemukan yang sepadan karena berbeda kualitas. Akhirnya, Tuhan mencipta seorang wanita yaitu Hawa, maka dia dipanggil sebagai Penolong yang Sepadan. Adam merasakan koneksi dan kepuasan total bersama Hawa.

Wanita dalam naturnya, harus berfungsi penuh sebagai wanita yang dapat berkomunikasi baik dengan suaminya. Luwes membangun kedekatan dan intimacy. Karenanya, diperlukan kualitas-kualitas setara. Misalnya, latar belakang keluarga yang tidak terlalu jauh, pendidikan selevel, dan kemampuan intelektual yang paling tidak sama tokcernya.

Peranan isteri luar biasa penting ketika suami mengalami krisis dan ditimpa berbagai kesulitan hidup. Sebagai Penolong, justru mampu menjadi teman bicara yang bersama-sama bergumul. Melalui masa krisis, suami isteri justru makin intim serta bersandar kepada Tuhan. Kalau tidak sepadan, mungkin sang isteri tidak mampu menyampaikan ide-ide, tidak bisa berbicara dengan baik, bahkan tidak cakap menemani akibatnya hubungan malah hancur di masa sulit.

Karenanya, background suami isteri paling tidak harus mirip-mirip. Konsep yang salah: Waktu pacaran cari saja pasangan yang bertolak belakang, pikirnya, ”Kalau beda pasti memperkaya.” Katakanlah sang pria suka kegiatan out-door, sementara sang wanita in-door senang berada di rumah; yang satu suka makan mie, yang satu suka makan gado-gado; yang satu suka fitness, yang satu suka baca buku. Oh indahnya pacaran, dapat mengisi dengan berbagai perbedaan.

Tapi, jika perbedaan sangat jauh, saat menikah malah bikin keki dan bete. Perbedaan bukannya menyatukan, malah menjauhkan mereka.

Sang suami berkata,”Keluar rumah yuk, aku bosan nih dari tadi di rumah melulu.”

Sang isteri jawab,”Gih..kamu pergi aja sendiri, aku selamanya senang di rumah.”

Nah Loh..!?

Satu dua kali tidak apa-apa, tapi kalau naturnya bertolak belakang, tanpa sadar mereka akan terpisah satu sama lain. Asyik masing-masing dalam kegiatan berbeda.

Sepadan berarti sewaktu pacaran, sang pria dan wanita menyadari perbedaan tidak terlalu jauh. Kalaupun ada pasti bisa diseberangi dan diselesaikan bersama.

(bersambung)

Pemelihara kehidupan

Hal-hal praktis sebagai Penolong dalam Firman Tuhan cukup panjang tetapi indah sekali, mari kita telusuri bersama.[16]

Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.

Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.

Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.

Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.

Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.

Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.

Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.

Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.

Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.

Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.

Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.

Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.

Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.

Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang.

Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.

Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.

Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:

Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.

Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!

Dari Firman Tuhan ada beberapa prinsip penting:

1. Isteri berperan sebagai Home Maker. Isteri mencipta Home Sweet Home. Dia mencintai tugas rutin dan sederhana dalam keluarga, hasilnya rumah menjadi nyaman senantiasa. Oh Indahnya…

Suami selalu mau pulang, senang ada di rumah, anak-anak apalagi. Firman Tuhan menyatakan sang isteri bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya. [17]

Seorang isteri mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.[18] Penting isteri berlatih menyediakan makanan dalam rumah dan berlatih melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Sebenarnya, pekerjaan ini membosankan tidak? Pastilah, karena menjadi rutinitas sehari-hari yang tiada habisnya. Apalagi setelah anak lahir, tuntutan itu makin banyak dan sama setiap hari.

Pagi menyediakan sarapan, siang menyediakan makanan, malam idem. Setiap hari terus puter otak: Makanan apa yang harus dimasak? Saban hari menyapu dan mengepel, tidak pernah selesai! Karena debu selalu tersedia baginya.

Saat dulu kami mau menikah dan berencana tinggal dengan orang tua Liana di Pondok Mertua Indah, seorang hamba Tuhan berkata pada saya, ”Tidak boleh! Kalau kamu mau menikah mesti meninggalkan orang tua dan berusaha mandiri. Terserah mau tinggal di mana. Mau kontrak kek. Mau kost sekamar kek, yang penting jangan tinggal serumah dengan mertua!”

Kok tidak boleh? Karena di rumah orang tua semuanya sudah ada. Nanti isteri tidak bisa berperan dan berfungsi maksimal, isteri jadi lumpuh. Kok gitu? Ya iya lah. Lah wong begitu bangun tidur dan buka pintu kamar, sudah ada makanan di meja makan kok. So pasti isteri tidak terlatih menyediakan makanan bagi suami.

Tuan dari seisi rumah pasti Ibu Mertua. Yang membersihkan dan mengatur segala sesuatunya mulai makanan, baju kotor sampai pernak-pernik rumah tangga lainnya. Akibatnya kalau menumpang, isteri tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. So, gumulkan baik-baik, kecuali orang tua usianya sangat lanjut barulah kita tinggal bersama untuk merawat mereka.

Walaupun bosan, niscaya kehadiran isteri bagi suami sangat memberikan pertolongan agar dapat berfungsi maksimal sebagai Kepala Keluarga. Suami selalu rindu pulang ke rumah, anak-anak juga senang dekat ibunya. Jika perasaan ini terbentuk niscaya pekerjaan isteri yang rutin tidaklah sia-sia. Kelihatannya sama, bosan…tetapi sangat membangun kehidupan suami dan anak-anak. Akhirnya, semua orang dalam keluarga merasakan rumah yang betul-betul damai sejahtera.

Kalau tidak ada isteri, siapa yang mengerjakan semua itu? TAKADA! Isterilah yang menjaga kehidupan suami berjalan dengan lancar.

Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.[19]

Wanita yang sudah tua WAJIB mengajar perempuan muda untuk mengasihi suami dan anak-anak. Hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suami agar Firman Allah jangan dihujat orang.

Keluarga sangat berkaitan dengan Tuhan. Ketika rumah tangga berantakan, pasti nama Tuhan dipermalukan. Dalam persekutuan dengan Tuhan tidak ada yang sia-sia! Celakanya, banyak wanita terpengaruh gerakan Feminisme Ekstrim, akhirnya tidak lagi merasa panggilan mengurus rumah sebagai panggilan mulia. Malah berkompetisi dengan pria menghasilkan uang.

Saya ingin menegaskan, ketika Tuhan mencipta wanita di dalam natur kewanitaan maka happiness-nya tidak pernah digali dari pekerjaan. Beda dengan pria, yang sumber kebahagiaannya memang digali dari keberhasilan demi keberhasilan dalam karier.

Wanita happines-nya justru bersumber dari keluarga. Dari pelayanannya kepada suami. Kalau seorang isteri melayani suami, mendidik anak-anak dan merawat rumah tangga, niscaya waktu melihat mereka berbahagia, sang isteri merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Jauh lebih berharga daripada menghasilkan duit milyaran sekalipun.

2. Mempunyai penghasilan sampingan. Isteri yang cakap seperti permata, ternyata juga bekerja.[20] Di masa lalu, wanita bekerja di rumah. Mendapat penghasilan dari ladang dan kalau punya banyak pembantu, cakap mendelegasikan rupa-rupa pekerjaan pada mereka. Pembantu A diatur supaya rumahnya bersih, pembantu B diatur supaya pergi ke pasar dan memasak sesuai menu yang sudah ditentukan, pembantu D-F diminta membuat barang-barang yang laku dijual dan membuahkan income.

Bedanya dengan wanita modern? Wanita modern direbut dari rumah dan bertengger di kantor seharian. Jika terjadi pergumulan mengurus rumah atau berkarir, akhirnya isteri menjalani kehidupan yang penuh ketegangan. Stressfull karena keduanya menuntut perhatian, waktu dan tanggungjawabnya.

(bersambung)

MASUKKAN BOX

Membesarkan Anak, PilihanKu.

Pernah saya tanya Liana,”Kamu kok senang jadi ibu rumah tangga?” Dulu Liana pernah bekerja sebagai dosen di sebuah Universitas Swasta di Jakarta, tetapi resign setelah anak pertama kami lahir. ”Saya belajar perkembangan anak, saat usia 0-2 tahun butuh trust, attachment kedekatan dengan ibu, juga pembentukan karakter pasti dipengaruhi saya.”

”Nah, karakter siapa yang digugu dan ditiru? Masak baby sitter-nya? Ogah ah, saya mau anak memiliki karakter yang diwariskan orang tua. Daripada bekerja, lebih baik saya menginvestasikan waktu bagi anakku dan memelihara suamiku dong.” tambahnya panjang lebar.

Kami berencana setelah putra bungsu kami Joshen berumur tujuh tahun lebih, Liana akan melanjutkan kuliah teologi yang pernah ditinggalkan.

Saya kadang merasa Liana bosan, maka saya menghibur dan memujinya sehingga dia memperoleh spirit yang baru lagi untuk mengerjakan pekerjaan rutin itu.

BOX SELESAI

Halo para isteri, jika Anda dipanggil menjadi ibu rumah tangga, bersyukurlah! Ini adalah panggilan yang sangat mulia. Beberapa tahun lagi, Anda akan melihat  satu investasi yang sangat menguntungkan. Anda mengalami, anak-anaknya bangun dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia. Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.[21]

Kalau semua ini terjadi maka seorang wanita Fulfill sekali, sangat terpenuhi kebahagiaannya. Kebahagiaan yang bernilai kekal, karena datang dari Tuhan yang menganugerahkannya kepada Anda, para Isteri.

3. Berdoa bagi suami. Isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji![22] Isteri dapat berperan sebagai Penolong kalau menjaga intimasi dengan Tuhan Yesus setiap hari. Isteri dalam segala perjuangan suami, mendoakan suami, juga mendoakan keberhasilan anak-anaknya. Menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman dalam hidup.

MASUKKAN BOX

Suami Stress vs Isteri Berdoa

Saya pernah mengalami masa kegelapan hidup karena kesulitan besar menghadang. Tapi akhirnya, mengalami kelegaan. Waktu itu rupanya Liana mendoakan saya. Heran sekali, dalam doa ada kuasa Supranatural Tuhan! Setelah didoakan, esok harinya saya mengalami pemulihan! Di situ saya merasa betapa besar pertolongan Liana. Padahal sederhana, berdoa saja.

Rupanya waktu itu isteriku baru saja membaca sebuah buku berjudul Kuasa Doa Seorang Isteri. Dia merasa saya sedang stress, lelah dan jenuh, tergerak berdoa untuk saya, tetapi bingung,” Mau doakan apa?” Setelah membaca buku itu, Liana terinspirasi mendoakan sesuatu. Tapi tidak dibicarakan, sampai kemudian dia bertanya, ”Bagaimana Fafa (panggilan saya di rumah) hari ini? Sepertinya lebih segar deh.”

”Tumben Na, kenapa nanya?”

”Kemarin saya doakan. Saya ingin tahu apakah doa saya dijawab Tuhan ndak?” Liana penasaran.

Ternyata benar Tuhan menjawab doa! Tembok tinggi memang tidak langsung diruntuhkan! Tapi doa telah membawa saya melampaui tembok itu dan melihat sesuatu yang indah di baliknya. Melihat dari perspektif Tuhan. Tiba-tiba semangatku pulih. Tuhan mengikat Covenant (Janji yang Kekal) dengan kita, Tuhan akan menyertai  dan menjawab doa karena kita telah disatukan dalam Pernikahan Kudus.

BOX SELESAI

Ada ilustrasi tentang buli-buli atau kendi. Batu-batu sebesar kepalan tangan dan pasir halus mau dimasukkan sekaligus ke dalam buli-buli ini. Batu sebesar kepalan tangan diilustrasikan sebagai pokok-pokok yang besar seperti berdoa, membaca firman Tuhan dan beribadah.

Pasir diilustrasikan sebagai hal-hal rutin seperti memasak, antar anak sekolah, mengajar anak, merapikan rumah, dan mengepel. Waktu pasir terlebih dahulu dimasukkan ke dalam buli-buli baru kemudian batu-batu besar, apakah muat? Ternyata batu besar tidak bisa masuk. 

Tetapi kalau dibalik urutannya, dimasukkan dulu batu-batu, baru pasir yang halus, ternyata muat. Ajaib ya? Pasir masuk mengisi sela-sela batu. Dari ilustrasi ini kita menyimpulkan, kalau seorang isteri setiap hari melakukan hal-hal rutin tetapi tidak membangun pokok-pokok yang kuat bersama Tuhan, maka dia akan kehabisan energi bahkan dia tidak punya waktu.

Ketika bangun pagi apa yang terpikir? Oh…Harus siapkan makanan, Oh…Menu hari ini apa? Oh…Baju seragam anak habis! Mesti cepat-cepat diseterika hari ini! Langsung sibuk bereskan rumah dan melakukan banyak hal seperti pasir-pasir itu.

Sampai akhirnya mau Saat Teduh, eh…sudah lelah, batunya tidak bisa masuk. Ya…Masih ada hari esok, tetapi besok juga sama saja karena salah menempatkan prioritas. Karenanya, bangun tidur seyogyanya langsung cari waktu dengan Tuhan, setelah itu barulah pasir-pasir halus dimasukkan ke dalam buli-buli. Pasti muat sekarang.

Kalau Anda berhubungan dekat dengan Tuhan. Firman Tuhan sungguh menguatkan, katakanlah hari itu Anda kalut dan kusut, Firman Tuhan pastilah mengingatkan dan memberi kekuatan. Sungguh indah bukan?

4. Mengasihi dan menghormati suaminya.[23]

5. Merawat diri supaya tetap cantik, membuat baginya permadani, lenan halus,[24] waktu suami pulang tidak bau bawang atau sambal terasi, tetapi bisa tampil sebaik mungkin. Seorang isteri bukan hanya waktu mau pergi saja rapi, di rumah juga dong. Ketika mau tidur rapi menawan, pula bersih, plus gigi cemerlang dan wangi semerbak.

6. Berkata-kata dengan hikmat, mengajar,[25] artinya isteri jangan suka ngomel, nanti suami-suami semua duduk di sotoh rumah. Kabur! Anak-anak jadi stress. Kalau di rumah ada singa kan pada takut! 

(bersambung)

5. Family Altar

Keunikan kelima adalah Family Altar. Saya meyakini Tuhan berperan sebagai Inisiator, Tuhanlah yang mencipta pernikahan dan memimpin pernikahan. Tuhan juga The Law Maker, yang memberikan Hukum: Suami sebagai Kepala, Isteri sebagai Penolong.

Tuhan memberikan Hukum untuk kita taati. Menjalani dengan setia, niscaya  rumah tangga yang harmonis menjadi milik kita. Akhirnya, rumah tangga sungguh memberkati banyak orang. Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.[26] Finally, saya percaya God is The Answer atas semua pergumulan keluarga.

Saya yakin, Tuhan memiliki banyak Peranan dalam pernikahan. Dia sangat rindu memberikan pertolongan, perlindungan, pengarahan dalam kehidupan keluarga. Sayangnya, kehadiran Tuhan seringkali hanya IDE belaka.

Saya percaya Tuhan, saya pergi ke gereja, namun kita tidak pernah menghadirkan Tuhan dalam rumah tangga kita. Disinilah MASALAH sesungguhnya mengapa rumah tangga kita stagnan. Karenanya, bahasan Family Altar menggenapi Bab Pertama ini.

Bagaimana menghadirkan Tuhan dalam rumah tangga kita?

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.[27]

Apa arti pelita? Saya yakin jikalau Firman Tuhan menghilang dari keluarga tanpa sadar kita sedang berjalan dalam kegelapan. Anda pasti pernah berada dalam kegelapan, misalnya waktu lagi mati lampu di rumah.

Yang sudah terbiasa terang, jalan ke mana-mana gampang, begitu mati lampu pasti langsung bingung. Kalau matinya lama mulai gelisah, apalagi di tempat asing. Bahasa Kitab Suci seringkali memakai kegelapan sebagai tempat dimana hati yang sangat jahat berada, tempat dosa bermanifestasi.

Jika Tuhan tidak hadir dalam rumah tangga, saya tidak bisa bayangkan bagaimana keadaan keluarga. Pasti kolaps! Banyak sekali pergumulan yang menekan, banyak arah yang membingungkan sampai akhirnya kehidupan kita tenggelam dalam ketidak pastian.

Di Perjanjian Lama, Yakub jatuh hati pada Rahel, sehingga rela bekerja tujuh tahun pada Paman Laban sebagai upahnya. Setelah bekerja tujuh tahun, yang Alkitab katakan bekerja sebentar saja karena cintanya yang besar, maka hari pernikahan yang ditunggu-tunggu tibalah.

Dalam kegelapan malam (waktu itu belum ada lampu karena Thomas Alva Edison belum lahir) apa yang terjadi? Laban telah menukar Rahel dengan Lea, kakaknya yang sungguh mati Yakub tidak cinta.

Paginya, Yakub kaget setengah mati, yang dirindukan tidak didapat, yang tidak pernah diangankan malah diberi. Semalam rupanya salah sasaran. Jelas salah…sudah ditukar… Yakub kecewa! Tapi Yakub lalu menebus Rahel dengan bekerja tujuh tahun lagi. Dalam kegelapan, cinta kasih yang murnipun mengalami penipuan dan kejahatan!

Cerita di atas mengajarkan, dalam kegelapan kejahatan gampang berkuasa, dan di sana banyak dosa bermanifestasi.

Apakah Anda sedang merasakan kegelapan menyelimuti keluarga? Keluarga terasa berjalan tanpa arah, berputar-putar, persoalan datang silih berganti, hubungan suami isteri dingin, anak-anak berontak, sulit dimengerti, mereka tidak mau taat orang tua. Saya yakin, kemungkinan terbesar adalah karena tidak ada Tuhan di sana.

Firman Tuhan berkata: FirmanMu pelita bagi kaki dan terang bagi jalanku. Kehadiran-Nya tidak boleh menjadi ide belaka, tetapi Real dan dirasakan.

(bersambung)

Identitas Keluarga Kristen

Mengapa mengadakan Family Altar? Karena kita harus memiliki identitas yang jelas sebagai anak-anak Allah. Setiap agama punya identitasnya masing-masing. Dari baju yang dipakai, ornamen atau hiasan yang digantung, atau tempat sembahyang di rumah. Semua menunjukkan siapa yang dimuliakan dalam rumah itu.

Bagi orang Kristen mungkin ada yang berpikir, ”Oh, identitas saya dibangun dengan memakai kalung salib. Identitas saya so pasti clear karena di rumah ada lukisan Yesus…Semua orang yang bertamu pasti tahu saya seorang Kristen, apalagi setiap Minggu pasti ke Gereja.”

Ya semua itu baik juga. Tapi apakah identitas dibangun oleh hal yang fenomenological begini? Saya yakin tidak. Identitas kita sebagai anak-anak Allah justeru dibangun dari kebiasaan menghadirkan firman Tuhan dalam keluarga.

Jika ditanya ,”Apakah Anda seorang Kristen?” Apa jawaban Anda?

”Tentu, saya seorang Kristen karena biasa menghadirkan Firman Tuhan dalam keluarga.” Inilah Numena-nya jika ada kebiasaan Family Altar. Ada ayah, ibu dan anak-anak yang berkumpul. Membaca Firman Tuhan dan berdoa. Family Altar harus kita bangun menjadi identitas kita sebagai anak-anak Tuhan.

Kalau ini tidak ada, maka lenyaplah identitas Kekristenan kita.

Pelaksanaan Family Altar

Bagaimana cara melaksanakan Family Altar?

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. [28]

Di sini ada perintah Tuhan yang dikutip lagi oleh Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru, ketika ditanya,”Apa hukum pertama dan terutama?” Yesus Kristus menjawab,” “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”[29]

Apa tanda-tanda orang yang mengasihi Tuhan?

Ada orang yang merasa sudah mengasihi Tuhan karena terlibat aktif dalam pelayanan di gereja, selalu memberi diakonia, menyisihkan persembahan, atau beribadah di gereja dengan setia tanpa bolos. Bahkan ada ajaran-ajaran ekstrem, misalnya mengasihi Tuhan dengan menyiksa diri atau mengorbankan diri dalam ritual tertentu.

Namun, apa tanda yang sejati? Ada perintah untuk mengasihi Tuhan[30] dan jika betul begitu maka langsung ayat berikutnya menyatakan, Apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.[31]

Family Altar hanya bisa dilakukan oleh orang yang mengasihi Tuhan. Tanda utama dalam hidupnya adalah haus akan firman dan memperhatikan firman Tuhan. Tidak hanya memperhatikan, tapi ketika berkeluarga diapun mengajarkannya berulang-ulang pada anak-anaknya. Dia ingin membawa seisi keluarga datang kepada firman karena firman itu dikasihinya.

(bersambung)

Family Altar bentuknya ada dua: Formal dan Informal.

Family Altar yang Formal

Formal seperti ibadah kecil dalam keluarga. Kita menyediakan satu waktu, mungkin di malam hari, saat ayah sudah pulang, ada ibu dan anak. Lalu apa yang dilakukan? Sama-sama duduk, menyanyi dan berdoa. Ada yang membaca firman Tuhan, ada yang mensharingkan firman Tuhan dan mendoakan firman yang dibaca supaya boleh nyata terjadi dalam kehidupan masing-masing. Ditutup dengan saling mendoakan pergumulan.

Untuk menjalankannya perlu disiplin karena manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak menyukai firman. Disiplinlah dengan waktu yang selalu On Time.

Dalam pengalaman kami, Liana menjadi Penolong yang mengingatkan,”Ini sudah jam 8 malam, ayo kumpul-kumpul!” Putra pertama kami Jostein waktu itu masih kecil. Karena sudah berulang-ulang mengadakannya terbentuk kebiasaan. Jika satu malam kelupaan karena satu dan lain hal Josteinlah yang mengingatkan kami. ”Pa..Ma..Belum cerita.”

Sungguh indah jika kita menghadirkan Tuhan dalam keluarga. Anak-anak sejak kecil seyogyanya sudah dibawa mengenal Tuhan. Cerita-cerita Alkitab banyak yang menarik, beragam Super Hero ada di sana. Musa dengan iman membelah Laut Merah, Yosua menyeberangi Sungai Yordan. Setelah itu tembok Yerikho roboh. Anak-anak terus diperkenalkan dengan cerita-cerita rohani. Satu saat Roh Kudus pasti memakainya guna memberi kekuatan bagi mereka.

Cerita-cerita tersebut menyatakan tangan Tuhan yang kuat sungguh menolong. Anak-anak butuh Super Hero. Sayang sekali kalau Super Hero-nya Donal Bebek, Superman, Iron Man atau Batman. Baik sekali kalau Super Hero mereka tokoh-tokoh Alkitab apalagi kalau Super Hero-nya Tuhan Yesus.

Melaluinya, anak-anak diajar bagaimana tokoh-tokoh Alkitab mengatasi masalah dengan berdoa. Pada dasarnya kedagingan manusia tidak suka firman, biasanya anak-anak diajak berdoa juga tidak mudah, tetapi setelah diajak berulang-ulang akan menjadi kebiasaan yang membentuk sistem kehidupan.

Sampai mereka dewasa, jika kebiasaan sudah terbentuk, hatinya pasti condong kepada firman Tuhan. Kenapa ada kata berulang-ulang? Karena manusia cenderung lupa. Sesuatu yang baik akhirnya harus dilakukan terus dan terus lagi.

Family Altar yang Informal

Firman Tuhan mengatakan: Mengajarkannya berulang-ulang dan membicarakannya apabila engkau dalam perjalanan, waktu engkau berbaring, waktu engkau bangun.

Aneh ya?

Berarti ini bukan ibadah formal, ini sesungguhnya adalah sebuah ruangan di dalam keluarga dimana Firman Tuhan dapat hadir sewaktu-waktu.

Waktu makan bersama bisa membicarakan firman Tuhan. Waktu sedang nonton bisa menghadirkan firman Tuhan, waktu naik mobil mendiskusikan hal-hal rohani. Sebuah cerita yang sungguh mengharukan kami. Suatu ketika di dalam mobil, Jostein (saat itu berumur lima tahun) berkata, ”Pa itu awan rumahnya Tuhan Yesus!”

Heran sekali. Kalau sudah biasa menghadirkan firman dalam rumah tangga, maka di mobil pun anak sangat bisa membicarakan hal-hal rohani. Di sini perlu sekali orang tua yang peka terhadap kehadiran firman Tuhan.

Jika anak-anak tahu-tahu membicarakan hal rohani, mungkin orang tua tidak peka. Mungkin kita hanya menjawab,”Ya…Ya…Ya…”  Tidak memperhatikan kata-kata mereka. Bukankah kita sering menganggap anak kecil dan celotehannya tidak penting?

Atau sebaliknya, kita bertanggung jawab meresponi Kairos tersebut sehingga terjadi obrolan yang menghadirkan Tuhan, ”Apakah Jostein mencintai Tuhan Yesus? Kalau Jostein cinta Tuhan Yesus, pasti bisa masuk Surga yang Indah….dan seterusnya…dan seterusnya…” Inilah yang terjadi saat itu.

Family Altar informal, hadir di mana saja. Tanpa kesengajaan atau dibuat-buat.

Setiap saat. Kapan saja, di mana saja orang tua yang takut akan Tuhan peka terhadap kehadiran firman-Nya. Misalnya, satu ketika melihat anak nakal, saat itu juga dari mulut orang tua dapat keluar firman Tuhan untuk menegur mereka.

Inilah yang firman Tuhan katakan, saat duduk, dalam perjalanan, berbaring atau bangun, atau sedang duduk-duduk bersama anak-anak. Tidak hanya peka, tapi juga mencipta kemungkinan firman Tuhan dapat hadir dan didengar mereka.

Biasanya kalau pulang gereja, saya dengan Liana membicarakan firman Tuhan yang baru didengar. ”Na, bagaimana tadi, dapat apa dari kotbah?” Ini informal sekali. Lalu kami mulai berdiskusi sambil saya nyetir.

Setelah pulang Gereja jangan langsung pikir,”Mau makan Mie Ayam di mana ya?” Tetapi cobalah membicarakan firman Tuhan yang baru didengar.

(bersambung)

Penghalang Family Altar

Family Altar sangat penting, tetapi mengapa sedikit keluarga Kristen yang melakukan? Bahkan riset menyatakan 90% keluarga Kristen tidak melakukannya. Beberapa hal yang menjadi pemikiran kita bersama adalah:

  1. Are You Happy With The Word of God? Satu pertanyaan refleksi bagi kita masing-masing: Senang tidak dengan firman Tuhan? Seringkali ketika firman Tuhan hadir dalam keluarga, justru kitanya kabur. Kenapa? Berhadapan dengan firman Tuhan maka banyak kenikmatan harus dibuang, keberdosaan harus dikikis habis.

Ada anggota keluarga yang terjerat pornografi, ada lagi yang malas, ada yang suka marah-marah, kalau firman hadir tentu semua itu harus ditinggalkan.

Hati-hati, jika kita menikmati kebiasaan-kebiasaan buruk dalam rumah tangga. Apa yang kita tabur, akan kita tuai, Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Harus memaksa diri agar kita bisa mendekat kepada Tuhan dan menghadirkan firman Tuhan dalam keluarga. Kita harus membuang semua hal jahat yang masih dipelihara sampai saat ini.

  1. Level iman kita selalu mempengaruhi. Kenapa ada orang yang berkemauan tinggi, kenapa ada yang asal-asalan dalam menjalani hidup? Level imanlah jawabannya. Membangun Family Altar dalam keluarga membutuhkan Level iman yang cukup sehingga membentuk kebiasaan. Kebiasaan kalau terbentuk akan menjadi pola dan pola itu kalau sudah baku menjadi sistem dalam keluarga. Kalau sudah jadi sistem, maka akan menjadi mudah sekali, karena sistem itu mengikat.

Saat sebuah kebiasaan baik dibuang terasa, kok ada yang hilang, kok ada yang kurang. Jika melakukan kebiasaan sampai tujuh minggu berturut-turut, hal yang dilakukan akan menjadi pola dan akan membentuk sistem kehidupan.

  1. Kehidupan yang spiritnya sekuler. Seperti sekrup yang tidak pas dengan mur-nya. Firman Tuhan mau diadakan kapan? Ternyata kita lebih senang nonton TV, lebih senang baca Koran, bahkan lebih setia baca Majalah dibanding baca Kitab Suci. Semua waktu habis untuk hal-hal sementara.

Kita lebih tertarik pada peristiwa-peristiwa dalam dunia sekarang, daripada apa yang Tuhan katakan. Inilah kehidupan yang spiritnya sekuler. Waktu pulang ke rumah tidak memikirkan hal-hal rohani. Tidak ada waktu dan ruangan bagi Firman. Padahal kalau diadakan, butuh waktu berapa lama sih? Cuma 10-15 menit! Nonton TV saja dari satu channel ke channel lain bisa berjam-jam sampai larut malam. Spirit yang sekuler membawa kita kepada hal-hal fana dan tidak membangun keluarga.

  1. Sistem dalam berkomunikasi. Sejak masa pacaran memang tidak pernah membicarakan hal-hal rohani. Pengalaman kami, sejak pacaran sudah biasa mendiskusikannya. Kenapa dulu saya memilih Liana sebagai isteri saya? Karena kalau berbicara hal-hal rohani dengannya terasa Pas. Cocok.

Ketika saya masih berteman dengan beberapa teman wanita, salah satu yang menjadi tolok ukur pilihan atas Liana adalah karena bicara hal-hal teologis dengannya enak sekali.

Bicara Perumpamaan Tuhan Yesus, berdiskusi soal doa, atau berdebat soal kehendak Allah versus kehendak manusia dan lain sebagainya. Kalau sejak pacaran tidak berbicara hal rohani, maka masuk ke dalam pernikahan juga begitu. Kalau anak lahir, yah tidak ada lagi yang dibicarakan. Tidak terbiasa.

  1. Tidak ada yang cakap memimpin. Waktu dilakukan, Family Altar menjadi sangat membosankan. Kenapa bosan? Karena papa mamanya tidak bergaul dengan firman. Saat berkumpul, dari mulut tidak ada firman yang keluar.

Mau cerita apa jika tidak pernah baca Alkitab? Mau sharing apa jika tidak pernah baca buku rohani. Waktu kumpul terasa membosankan. Sebagai orang tua kalau rajin baca firman dan rajin merenungkannya, cerita akan mengalir tidak habis-habis. Sampai bingung stopnya.

  1. Pengalaman rohani sangat miskin. Pengalaman rohani sangat penting dibagikan. Misalnya, bagaimana Tuhan menjawab doa. Atau, menuturkan sebuah kejadian buruk tetapi baik dari perspektif iman Kristen. Saya sering menceritakan kejadian-kejadian dimana saya kepepet, kemudian berdoa dan Tuhan hadir memberikan jalan keluar! Semua ini menjadi satu perbincangan yang sangat asyik dalam rumah tangga. Menimbulkan kebanggaan anak kepada Tuhan Yesus.

Sejatinya, anak-anak senang dengan Family Altar karena ada kumpul-kumpul dengan papa mamanya. Ada keluarga berkata,”Kami tidak bisa Family Altar, karena anak kami masih kecil.”

Kenapa ada keluarga merasa anak-anak sebagai penghambat? Justru anak-anaklah supporter ayah dan ibu untuk setia ber-Family Altar. Family Altar sesungguhnya bisa dimulai saat anak sudah bisa duduk. Tidak usah lama-lama yang penting kebiasaannya.

Keselamatan adalah anugerah, GRATIS! Tidak perlu menambah apapun ke dalam keselamatan, karena Kristus telah melakukannya secara utuh di kayu salib. Tetapi pertumbuhan kerohanian, arah hidup keluarga, masa depan keluarga, anak-anak yang takut akan Tuhan, hubungan suami isteri yang harmonis seumur hidup. Semua ini membutuhkan usaha bersama.

Bedakan Grace (Anugerah) dengan Growth (Pertumbuhan). Growth adalah usaha kita bersama Tuhan, kalau tidak mengusahakannya mungkin keluarga mandek seperti Pohon Bonsai. Sayang sekali.

Kuncinya adalah mengasihi Tuhan. Kalau mengasihi-Nya, segala hambatan pasti menyingkir dan kita akan melaksanakan dengan setia.

Ingatlah: Hal-hal rohani tidak ada yang instan. Susu ada yang instan, Mie ada yang instan, tetapi pertumbuhan kerohanian mustahil terjadi dalam semalam. Kita harus membangunnya setiap hari.

Mari setiap Suami berjuang sebagai Kepala dan Isteri sebagai Penolong! Tuhan akan menyertai Anda selalu!


[1] 1 Petrus 2: 9-10

[2] 1 Petrus 2

[3] 2 Korintus 6: 14

[4] Matius 13: 24-30

[5] Ulangan 17: 17

[6] Pengkotbah 9: 9

[7] Yakobus 1: 8

[8] 1 Petrus 3: 7

[9] Efesus 5: 22 – 33

[10] Matius 1: 23

[11] Efesus 5: 22-33

[12] Kejadian 2: 24

[13] Kejadian 2: 18

[14] Mazmur 42: 6

[15] Yohanes 14: 16

[16] Amsal 31: 10-31

[17] Ayat 15

[18] Ayat 27

[19] Titus 2: 3-5

[20] Amsal 31: 16 & 24

[21] Amsal 31: 28

[22] Amsal 31: 30

[23] Ayat 11 & 12

[24] Ayat 22

[25] Ayat 26

[26] Mazmur 127: 1

[27] Mazmur 119: 105 

[28] Ulangan 6: 4-7

[29] Matius 22: 37

[30] Ulangan 6: 5

[31] Ulangan 6: 6

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *