Site Loader
D'Botanica (BTC) Mall. P01/01. Pasteur, Bandung.

Konflik adalah hal biasa dalam hubungan suami isteri. Pertanyaannya: Jika biasa kenapa berakibat fatal? Mengapa banyak pernikahan menjadi dingin setelah ribut besar? Ya, karena tidak cakap mengatasi & cenderung membiarkan.

Jika konflik bisa diatasi dengan baik, yang timbul intimasi: Suami isteri makin dekat dan malah semakin kenal. Makin kenal maka makin sayang. Setelah itu, muncullah komitmen-komitmen baru yang dibuat bersama untuk mengerek hubungan ke level yang baru.

Apakah lebih sering konflik menjadi lebih baik? Karena akan tambah kenal? Ga begitu juga lah. Orang yang sehat jiwanya toh hidup bukan untuk mencari masalah!

Di sini perlu membedakan ada konflik yang BERAT, juga ada yang RINGAN. Kalau terlalu berat tentu hubungan pernikahan menjadi madesu (masa depan suram).

Konflik berat ringan, diukur dari apa?

1. Dari banyaknya / frekuensi konflik.
Jika suami isteri konflik setiap hari, piring beterbangan di rumahnya, ini sudah kategori berat, tidak sehat dan sangat melelahkan. Menurut riset, pasangan yang mengalami marital distress, rata-rata 3 atau 4 kali dalam 5 hari mengalami konflik. Pasangan yang happy, ternyata mengalami 1 kali konflik dalam 5 hari. Anda yang mana?

“Wah, kalau kita tuh tidak pernah konflik,” kata seseorang yang baru menikah. Ini pun mesti peka, kalau tidak pernah konflik, harus dicari tahu penyebabnya: Jangan-jangan ada yang salah dalam hubungan mereka:

• Tidak pernah membicarakan hal-hal yang bersifat personal. Pembicaraan hanya berkisar objek di luar diri. Ini juga akan mengakibatkan hubungan yang dangkal, cuma basa basi.

• Takut dengan yang namanya konflik. Tidak berani masuk ke dalam pembicaraan yang seharusnya dibicarakan, akhirnya dipendam. Dipendam kan tidak muncul konflik, tetapi lama-lama jadi penyakit kronis.

2. Diukur dari issue pencetus konflik. Issue bisa penting atau tidak penting. Penting, misalnya: Masalah keuangan, masa depan anak-anak atau masalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang harus didiskusikan sampai tuntas.

Tidak penting, misalnya masalah makanan kurang garam, tapi dibicarakan seperti dunia sudah mau berakhir, mengungkit-ungkit hal-hal yang telah lewat dan sudah beres tapi dibicarakan untuk memuaskan ego supaya bisa menekan pasangan.

3. Diukur dari durasi konflik. Berapa lama satu konflik berlangsung? Jika hari ini marah, harus padam sebelum matahari terbenam. Kenapa matahari terbenam jadi ukurannya? Karena Tuhan kasihan sama Anda. Marah boleh kok, tetapi jangan kelamaan, apalagi dibawa tidur. Bisa pahit dalam hati, nanti darah tinggi. Mesti sesegera mungkin diselesaikan.

Ada juga pasutri yang pasang ego tinggi dan bertahan diam-diaman berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bulan! Coba intip HP nya, jangan2 sudah membina keakraban dengan yang lain.

Ada konflik yang tak beres? Selesaikan segera ya…

Pdt. Chang Khui Fa
Passionate Marriage Mentor

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *