Site Loader
D'Botanica (BTC) Mall. P01/01. Pasteur, Bandung.

Pria dan wanita, masing-masing punya Independent Goal atau Tujuan Pribadi. Tujuan pribadi pasti dibawa masuk ke pernikahan. Marriage is Two Become One. Dua jadi Satu. Bagaimana dua pribadi yang bertujuan beda menjadikan tujuannya bersatu?

PRIA: Sebelum menikah, seorang pria punya tujuan personal untuk bekerja sampai posisi puncak. Dia menaruh semua perhatian, konsentrasi, waktu, kemampuan, bahkan kebahagiaannya demi pencapaian karir.

Setelah menikah, sekarang beristeri dan punya anak. Apakah tujuan personal-nya ini boleh dibawa terus? Jika belum tercapai, jelas mati-matian mengejar. Bekerja dan bekerja bahkan makin tenggelam dalam pekerjaannya. Apa yang akan terjadi? Apakah salah jika seorang pria mengejar karirnya? Memang, secara natural 90% tujuan personalnya adalah berkarir, karena harga dirinya terletak di sana.

Hati-hatilah saat membangun harga diri dan identitas HANYA dari pekerjaan. Di saat yang sama mungkin kita sedang kehilangan harta berharga di rumah. Biasanya penyesalan datang terlambat…

Jangan berkata, “Aku bekerja untuk isteri dan anak-anakku. Aku mengasihi mereka!” Pertanyaan yang harus dijawab: “Dimana Anda saat isteri dan anak-anak membutuhkan Anda?”

WANITA: Apa tujuan pribadi seorang wanita ketika menikah?

Dalam hati mereka, ada satu keinginan yang kuat untuk bersama-sama. Wanita ingin dipelihara, ditemani, dan dimengerti. Wanita ingin menghilangkan kesepian, dan diakui keberadaannya. Ada juga wanita yang memakai pernikahan sebagai kesempatan untuk kabur dari rumah karena papa mama terlalu mengekang.

Banyak sekali motivasi mengapa seorang wanita menikah. Umumnya mereka ingin memiliki ikatan kebersamaan dengan suaminya. Sang suami harus selalu bisa membagi waktu dengan dengannya.

Di sisi lain, seorang isteri sewajarnya harus tahu: Tidak bisa setiap hari menuntut terus kebersamaan. Tak mungkin menuntut suami setiap hari di rumah. Nanti makan apa dong? Masa batu digoreng?

Misalnya Isteri sudah bete di rumah, ingin keluar jalan-jalan berdua suami, supaya bisa ngobrol-ngobrol santai. Tapi, Celaka! Bagaimana jika suami sudah terlalu letih dalam bekerja, merasa hari libur adalah hari spesial memanjakan diri. Tidur…sebentar lagi…Baring sebentar lagi, santai dulu ah… atau memoles mobil kesayangan sampai kinclong…plus bermain dengan binatang peliharaan… dan TIDAK MAU DIGANGGU?

Kalau masing-masing mempertahankan tujuannya sendiri, konflik yang besar sudah menanti untuk memporak-porandakan pernikahan.

Seorang istri pernah berkata,”Jikalau kamu sibuk Okeylah. Apalagi jika pekerjaan banyak dan harus diselesaikan, tetapi setelah semuanya lewat, kamu harus menyediakan waktu untuk ajak kami jalan-jalan ya…” Begitulah pesan sederhana seorang istri.

Setelah dipenuhi, asalkan suaminya memberikan waktu bersamanya, kadang hanya di rumah saja, istri pasti merasa lebih tenang. Ketenangan batin adalah kunci untuk merawat keluarga.

Tujuan Pribadi harus perlahan-lahan berubah menjadi Interdependent Goal atau Tujuan Bersama. Apa artinya? Harus ada kepekaan dan fleksibilitas untuk menstabilkan tujuan personal dan keluarga. Ada saatnya suami harus bekerja keras dan menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas, tapi ada kalanya keluarga diprioritaskan dan hapuskan semua jadwal pekerjaan yang menumpuk.

Ada saatnya isteri menuntut suami menemaninya, ada kalanya juga isteri memberikan kesempatan pada suami untuk menikmati kesenangan.

Setelah seseorang menikah, seorang suami harus mulai belajar menggali kebahagiaannya dari keluarga. Menikmati kebersamaan dengan isteri dan anak-anaknya. Dia bahagia waktu isteri dan anak bahagia. Ingin berbagian dalam mendidik anak-anaknya. Berusaha ada, sewaktu keluarga membutuhkannya. Inilah Family Man.

Orang yang matang adalah orang yang sangat fleksibel, tidak kaku, tidak melulu hanya memperhatikan satu sisi kehidupan. Dia dapat melihat berbagai dimensi kehidupannya. Cakap menaruh prioritas pada beberapa titik, tidak hanya pada satu titik saja.

Suami isteri yang dikasihi Tuhan, kenalilah apa tujuan personal masing-masing! Apakah Anda masing-masing memaksakan tujuan? Setelah tahun demi tahun lewat, apakah tujuan pribadi telah memisahkan Anda berdua? Apakah hal ini menyebabkan konflik yang tidak berkesudahan dalam keluarga?

Buka Agenda, cari hari yang kosong, ciptakan waktu berdua. Kalau perlu ambil cuti barang satu dua hari untuk mendiskusikan kembali apa tujuan pernikahan Anda.

Pdt. Chang Khui Fa
Passionate Marriage Mentor
GnTbK, p. 119-122

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *