Site Loader
D'Botanica (BTC) Mall. P01/01. Pasteur, Bandung.

Mari melihat apa kebutuhan istri yang harus diperjuangkan suaminya sekuat tenaga:

1. Loved and To Be Loved. Dikasihi.
Saat suami berkata,”I Love You,” artinya Suami lebih mengutamakan istrinya dibanding yang lain. Yang lain itu apa? Pekerjaan, hobi, teman dekat, kerabat, handphone dan lain-lain yang seringkali menyibukkan suaminya.

Perasaan dicintai muncul saat seseorang merasa diutamakan, didahulukan lebih dari pada yang lain.

2. Feeling Secure. Merasa aman.

Ada dua faktor yang membuat isteri merasa aman:

• Adanya relasi dengan Tuhan.
Jika relasi istri dengan Tuhan baik maka dia percaya apapun yang terjadi dalam hidupnya, Tuhan sedang dan akan selalu memimpin. Seperti bayi dalam pelukan ibunya, walaupun bumi bergoncang, tetap merasa aman.

Jika hal yang terburuk terjadi, umpama suami selingkuh, mungkinkah tercipta rasa aman itu? Jika isteri menggantungkan hidupnya pada suami, pastilah kehilangan pegangan dan putus harap. Aduh…Kiamat hidupku! Tetapi jika dia bergantung pada Tuhan. Hidupnya masih ada pegangan, tidak akan merasa hidupnya berakhir tapi masih kuat menggantungkan masa depannya pada Tuhan yang akan memimpin dan memeliharanya.

• Suaminya seorang yang bisa dipercaya (trustworthy). Isteri tidak akan khawatir ketika suami ke luar kota. Ketika suami menggunakan uangnya atau ketika suami pulang malam.

Suami trustworthy punya karakteristik:

– Mencintai dan membina relasi denganTuhan.
– Mengasihi dan membina relasi dengan isterinya.
– Bertanggungjawab atas perekonomian keluarga.

3. Sense of Importance. Merasa penting.

Isteri ingin merasa dibutuhkan. Kadang suami tidak menganggap penting kehadiran isteri. Ada atau tidak ada, sepertinya sama saja. Bila isteri diijinkan berpartisipasi dalam kehidupan suami, tentu merasa dinomorsatukan.

Ada seorang isteri curhat, ”Sejak suamiku wiraswasta, aku dicuekin terus!” Sang suami tidak lagi melibatkannya dalam usaha yang baru. Tiada lagi cerita bagaimana perkembangan usahanya, dan apa saja kesulitan-kesulitannya. Sekarang suaminya malah dekat dengan rekan kerja.

Padahal dulu, waktu suaminya masih bekerja di kantor. Kalau pulang pasti bawa cerita-cerita lucu. ”Kamu tahu enggak, tadi di kantor si bos ngamuk, ampun banget ngamuknya, masa gara-gara…” Isteri merasa penting karena sang suami bercerita. Setelah wiraswata, suaminya malah diskusi dengan temannya. Isteri tidak diajak terlibat lagi. Rasa tidak penting muncul. Padahal dia ingin mendukung suaminya.

Bagaimana membangun perasaan penting?

a. Apa yang dibuat isteri seyogyanya dihargai suami. Jika isteri sudah membuat makanan di rumah, janganlah makan di luar tanpa penjelasan. Isteri pasti keki luar dalam.

b. Isteri diperlakukan sebagai pribadi. Bukan benda. Benda digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Waktu mau digunakan, diambil. Ketika tidak dipakai, ditinggal. Ibarat peribahasa: Habis manis, sepah dibuang. Padahal, saat tidak membutuhkan kehadirannya, mungkin istri yang membutuhkan kehadiran suaminya, makanya harus peka. Hubungan suami isteri bukan hanya hubungan fungsional, tetapi juga hubungan relasional yang harus saling mengisi satu sama lain.

c. Isteri dijadikan tempat bicara. Suami bebas bercerita, bertanya, mengeluh, bergumul, mengungkapkan pendapat, pikiran dan perasaannya. Bebas tapi tetap hormat! Setelah itu sang isteri jangan berkata,”Kamu kok bodoh banget sih?” Gawat! Suami bisa mabur!
Kalau suami menjadikan istri teman bicara, tentu isteri merasa bahagia, mengerti atau tidak, itu urusan belakangan. Intinya, kalau diajak ikut berbagian dalam hidup suaminya, pasti akan merasa penting.

d. Suami menyediakan waktu ‘spesial’ bagi isteri. Suami yang terlalu sibuk, istri bisa jadi uring-uringan. Istri berpikir,” Dulu setiap minggu, selalu setidaknya satu kali ada waktu berdua; tapi sekarang sibuk terus. Satu minggu lewat, dua minggu lewat, eh… tiga minggu lewat kok sibuk ga abis-abis… tidak pernah pergi berdua-an?” Akhirnya, hal-hal sepele bisa jadi besar. Kenapa? Karena sense of importance-nya mulai dilalaikan.

e. Suami mengerti perasaan istrinya. Tingkah laku dan sikap seorang wanita biasanya diatur oleh perasaan. Suami dengan pertolongan Tuhan perlu memiliki kepekaan tentang sikon isterinya.

Waktu pulang ke rumah, Suami bisa merasakan aroma bad temper istrinya. Mungkin karena cape dengan anak-anak. Baiknya dekati saja. ”Kenapa kamu hari ini?” Mulailah istri bercerita,” Iya tadi tuh, anak-anak…”
Nah, dengarkan saja, perhatikan dengan tekun dan penuh perjuangan, nanti pasti pelan-pelan reda sendiri. Kalau sudah tenang, ajak berdoa,”Yuk, kita serahkan sama Tuhan Yesus.”

Mendengarkan isteri, ada satu prinsip: Jangan sekali-kali menimpali. Dengarkan saja semua keluhannya. Nanti malah berkelahi kalau diresponi. Kalau ada waktu ya… diajak keluar rumah sebentar, untuk menghirup udara segar.

Pernikahan adalah perjuangan seumur hidup. Pernikahan juga sekolah seumur hidup, tempat kita belajar untuk saling mengenal dan mengerti, lalu bersama-sama bertumbuh. Setelah tahu, mari kita jalankan dengan pertolongan Tuhan!

Pdt. Chang Khui Fa
Passionate Marriage Mentor

GnTbK, p. 115-119

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *